Wednesday, February 9, 2011

IPA/IPS?

Sebagai murid kelas 12, gue harus mulai berpikir tentang masa depan (yes this sounds old but it's true, right?). Gue harus mikirin ke universitas mana gue mau melanjutkan pendidikan dan jurusan yang gue ambil. Setelah gue berpikir panjang, gue pun ngambil keputusan. Gue memilih buat menyebrang. Ya, dari jurusan IPA di SMA, ke jurusan IPS di universitas. Gue memutuskan buat berjuang untuk menjadi mahasiswi Universitas Indonesia jurusan manajemen.

Mungkin beberapa orang yang baca post ini adalah anak IPS, atau yang bukan IPS tapi punya pemikiran seperti mayoritas anak IPS lainnya:
Udah susah-susah belajar IPA 2 tahun, tau-tau ngambil lahan anak IPS. Ngapain lo belajar IPA dong selama ini?
Ok, yang di atas itu bukan karangan gue doang, some people actually say that (or well, maybe tweet it, whatever). Bahkan salah satu temen deket gue pun ngomong begitu ke gue, meskipun pastinya dengan bahasa yang berbeda. Intinya menunjukkan bahwa gue akan mengambil lahan mereka di universitas.

Gue punya beberapa alasan pribadi kenapa gue masuk IPA, meskipun gue akui minat dan kemampuan gue adalah IPS. Alasan ini mungkin ga semua orang bisa ngerti dan mungkin gue terdengar mengada-mengada. Salah satunya adalah dulu gue dulu belum tau mau menjadi apa. Gue belum tau apakah gue ternyata minat ke IPA atau ke IPS (walaupun memang condong ke IPS). Kalo gue memilih IPS dan ternyata gue, misalnya aja, pengen jadi ahli gizi, itu udah ga mungkin karena menurut gue impossible buat belajar pelajaran IPA tanpa guru.

Selain itu, gue melihat realitas sekolah gue sendiri yang agak menomorduakan anak IPS. Bukan berarti gue menyetujui hal ini, nggak sama sekali, tapi begitulah realitanya. Di sekolah gue (mungkin di sekolah lain pun begitu juga, I don't know), dari awal secara implisit guru-guru menyatakan bahwa anak IPS adalah anak-anak yang ga 'sepintar' di IPA dan guru cenderung 'malas' buat ngajar IPS, yang menurut gue adalah salah besar karena ga sepantasnya guru mencap murid demikian. Tapi itu lah yang menjadi pertimbangan gue masuk IPA. Gue membayar sama banyaknya dengan murid-murid lain dan gue ga mau dinomorduakan

Gue tipe orang yang mesti 'di cambuk' buat belajar terus menerus dan harus melihat orang lain yang lebih rajin daripada gue supaya gue termotivasi menjadi rajin. Menurut gue, itu yang ga gue bisa dapetin di IPS.

Sorry if this post offend any of you, I just want to share my thoughts. Gue ga ada maksud buat merendahkan siapa pun dalam post ini, tapi cuma menyampaikan pendapat gue. Dan buat anak IPS yang baca ini dan menganggap gue mencuri lahan kalian, pikir aja bahwa gue tertinggal dua tahun pelajaran IPS dari kalian dan kalian udah belajar jauh lebih banyak dan jauh lebih lama dari gue. So why you have to worry? Kalo gue jadi lo, itu lah yang akan gue pikirkan, bahwa anak IPA ga akan bisa mencuri lahan gue di universitas. Be positive and trust yourself that you can do it :)

Well, any way, good luck to all of you!

2 comments:

  1. walah ipa sama ips buka stratifikasi sosial! Ipa ips sama aja, yang menyebrang gini nih yg gak punya pendirian

    ReplyDelete
  2. Loh, mas/mbak, udah dibaca belum post saya? Emang anda sekolah di sekolah saya? Saya kan bilangnya di sekolah saya :)

    ReplyDelete